Minggu, 03 Mei 2020

Growth Mindset VS Fixed Mindset. Which One Is Better?


Pernah dengar istilah growth mindset? Makhluk seperti apa sih growth mindset itu? Growth mindset adalah sebuah pola pikir dasar yang bisa mengubah kehidupan kita ke arah yang lebih baik. Growth mindset juga punya lawannya loh, yaitu fixed mindset. Duh, istilah apalagi nih? Yuk sama-sama kita bahas.
Istilah Fixed Mindset dan Growth mindset dicetuskan oleh Carol Dweck, seorang peneliti di Universitas Stanford yang juga merupakan penulis buku psikologi terkemuka. Dua istilah ini sebenarnya adalah pola pikir dasar yang cukup bisa memengaruhi kehidupan kita.
  • "Yaa gue emang gini, susah untuk komunikasi sama orang lain, susah ngomong di depan umum. Kalau disuruh maju buat presentasi selalu gugup dan hasilnya selalu kacau"
  •  "Yaudahlah emang gue dari sananya udah kaya gini. Ngga punya skill sama sekali buat nulis. Gue sih bersyukur aja"
  • "Susah sih, gue emang dari kecil pemalu. Gimana mau ikut organisasi, ngomong di depan umum aja gue ngga bisa"
Kamu pernah mengucapkan kalimat-kalimat di atas? Kalau iya, itu artinya kamu masih menggunakan fixed mindset sebagai pola pikir kamu selama ini. Saya pun dulu seperti itu, tapi seiring berjalannya waktu, pola pikir ini perlahan bisa diubah.
Jadi sebenernya fixed mindset tuh apa sih? Fixed mindset itu bisa disebut pola pikir tetap. Jadi orang yang memiliki pola pikir ini merasa kalau kemampuan yang dimilikinya adalah takdir atau ketetapan tuhan yang tidak bisa diubah. Ia juga tidak akan berusaha untuk mengubahnya. Alih-alih bersyukur, yang dilakukan orang dengan pola pikir ini justru hanya pasrah.
Sisi buruknya adalah orang dengan pola pikir ini tidak ingin maju dan berkembang. Selalu stuck, diam di tempat. Takut untuk mencoba hal baru, takut gagal. Padahal gagal itu hal yang wajar kan? Ya, walaupun sedikit sakit sih.
Kebalikan dari fixed mindset, growth mindset adalah pola pikir yang berkembang. Orang dengan pola pikir ini akan terus melihat tantangan sebagai peluang. Ia tidak akan menyerah walau sudah gagal puluhan bahkan ratusan kali. Intinya orang ini mau untuk terus maju, dan ngga stuck di tempat.
Membahas fixed mindset dan growth mindset, sebaiknya kita memiliki pola pikir yang seperti apa sih? Jawabannya jelas growth mindset. Memangnya kenapa?
Mencoba menerapkan pola pikir growth mindset dalam kehidupan kita itu banyak banget nilai positifnya. Yang pertama berani untuk mencoba. Terkadang memang susah ya mencoba hal baru. Karena mengingat pengalaman yang minim atau tidak punya pengalaman sama sekali. Tapi dengan mencoba, kita akan tahu bagaimana rasanya, kita tahu bagaimana sulitnya, bagaimana gugupnya, dan bagaimana rumitnya suatu permasalahan. Dengan mencoba hal baru, kemampuan problem solving kita akan terus terasah. Jadi saat di kemudian hari kita bertemu case yang sama, kita tahu bagaimana cara menyelesaikannya.
Nih, saya coba ceritakan pengalaman saya saat mencoba hal baru yaa.


Tahun lalu, di program kerja PNJ Mengajar 2019 saya mendaftar sebagai pengajar. Singkat cerita diterimalah saya dan tibalah tugas saya untuk mengajar kelas 1-6 SD selama dua minggu.
Pernahkah saya mengajar sebelumnya? Tentu tidak.
Paling mentok ya jadi guru di rumah, membantu adik saya mengerjakan PR. Tidak pernah terbayang harus mengajar sekitar seratus anak, dari kelas satu sampai kelas enam. Ditambah saya mengajar di daerah Bogor, yang bahasa kesehariannya saja sudah berbeda dengan saya.
Gugup? Iya. Stress? Sudah pasti. Tapi apakah saya menyerah? Tentu tidak.
Malam sebelum mengajar saya gugup bukan main, bahkan keesokan harinya pun masih sama. Hari pertama mengajar sangat kacau. Padahal saya sudah menyiapkan bahan ajarnya semalaman. Saya tidak bisa mengendalikan murid-murid, saya tidak maksimal menyampaikan materi dan lain-lain. Tapi perlahan saya terbiasa dan akhirnya bisa. Meskipun terdengar klise, tapi peribahasa bisa karena terbiasa adalah benar adanya.
Kemudian cerita kedua, saat saya masih SMA. Beberapa kali saya mengikuti dan memenangkan lomba karya tulis ilmiah. Semua bermula saat kelas sepuluh, saya dipilih untuk mengikiti Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) yang diselenggarakan oleh LIPI. PIRN ini merupakan event nasional, pesertanya dari Sabang sampai Merauke.

Singkat cerita, di PIRN setiap peserta diwajibkan membuat penelitian selama 1 minggu bersama kelompoknya. Saat itu saya belum banyak mengantongi ilmu tentang karya tulis ilmiah. Tapi saya mencoba menerapkannya. Kebetulan mendapat kelompok dengan dua anak SMP dan 2 anak SMA yang seumuran dengan saya. Yang tahu soal karya tulis ilmiah hanya kami bertiga, yang sudah SMA. Dengan kelompok seadanya, kami nekat menggarap penelitian. Menggarapnya sampai jam 2 pagi sudah menjadi kebiasaan. Awalnya kita ragu. Tapi benar, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Lagi-lagi quotes klise itu benar adanya. Kami diumumkan sebagai kelompok terbaik bidang IPS. Tingkat nasional. Saya pun tidak menyangkanya, tapi kalau tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang mustahil bukan? 
Semuanya memang harus berproses. Tidak ada yang instan. Bahkan indomie saja harus direbus dulu kan supaya bisa dimakan? Kuncinya adalah konsisten dan tawakal. Kemudian yakini dalam hati bahwa keberhasilan itu akan datang.
Nilai positif yang kedua, dari menerapkan pola pikir growth mindset adalah tidak takut dan tidak mudah menyerah. Saya dulu sering sekali merasa takut. Takut mencoba, takut gagal, takut tidak bisa dan lain-lain. Ya, meskipun sampai sekarang juga masih sih. Tapi intensitasnya alhamdulillah sudah berkurang.
Bicara soal takut gagal, saya selalu mengingat kalimat ini. Saya lupa siapa yang mengatakannya, tapi kalimat ini benar-benar ajaib.
"Habiskan jatah gagal kamu mulai dari sekarang, makin sering kamu gagal, makin sukses kamu di masa depan"
Jadi jangan takut gagal, gagal lah sebanyak-banyaknya. Habiskan jatah gagal kamu. Gagal itu tidak selamanya buruk. Dari kegagalan kita akan belajar. Belajar melihat mana yang kurang, mana yang perlu ditambah, mana yang perlu diperbaiki. Sehingga kemudian hari kita tidak mengulangi kegagalan yang sama, dan bebuah manis menjadi keberhasilan yang tak terduga.
Nilai positif yang ketiga adalah tidak menunda terlalu banyak, #mulaiajadulu. Ini guys yang penting. Terlalu banyak mikir, terlalu banyak planning, sampai akhirnya ngga jalan-jalan tuh rencananya. Pernah ngga kalian kaya gini? Sering banget kan. Terlalu banyak memikirkan tapi sedikit melakukan. Ternyata ini juga ngga baik. Sebuah hal positif yang seharusnya sudah terlaksana dari jauh-jauh hari tapi sampai sekarang masih saja menjadi wacana. Lalu kapan bisa berkembangnya?
Menulis satu atau dua tulisan saja tidak serta merta menjadikan kamu sebagai penulis andal nan terkenal kan? J.K Rowling saja pernah ditolak 12 penerbit buku, sampai akhirnya novel Harry Potter rilis sebagai novel yang melejit luar biasa. Semuanya butuh proses. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?
Bicara soal memulai. Saya teringat kalimat penyemangat ini.
"Di saat kamu sedang asik bersantai, jutaan sainganmu sedang mati-matian berjuang untuk masa depannya"
         Guys, bayangin. Berapa banyak pesaing yang mempunyai mimpi sama seperti kita. Kalau kita tidak memulai dan memaksimalkannya dari sekarang, jangan menyesal jika di masa depan kita tidak menjadi apa-apa. Karena mimpi kita terlebih dahulu direbut oleh saingan kita.
Pola pikir growth mindset akan banyak mengubah kehidupan kita ke arah yang lebih baik. Semuanya berproses. Nikmati prosesnya. Jangan takut untuk mencoba dan #mulaiajadulu.

Rabu, 29 April 2020

KOSONGKAN GELASMU


“Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu.” -Bob Sadino

Dilihat dari judul dan kutipan keren diatas, pasti kamu tahu apa yang mau saya bahas disini. Yapss, its all about mengosongkan gelas. Apa sebenernya hakikat dari mengosongkan gelas itu sendiri? Saya yakin pasti banyak diantara kalian yang sudah mengetahuinya. Pada tulisan kali ini, saya tidak akan menggurui kalian atau apapun itu. Saya pure hanya ingin menyampaikan beberapa pendapat dan pandangan pribadi saya soal ini. So, no offence yaa!
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti selalu menemukan hal baru. Entah itu pengalaman, ilmu, pelajaran, ataupun teman. Tentunya kita sebagai manusia akan terus mendapatkan itu semua sampai akhir hayat kita. Namun pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana supaya semua hal baru dalam hidup kita bisa memiliki makna?
Bicara soal hal baru. Ketika kita mempelajari suatu hal dari seseorang, kemudian seseorang yang berbeda kembali mengajarkan hal yang sama, menurut pandangan pribadi saya hal itu tetap dikatakan baru. Baik, saya kasih contoh dan permisalannya. Misalnya, saya belajar tentang budaya dan sejarah tari saman dari si A, kemudian di lain waktu si B kembali mengajarkan saya hal yang sama yaitu budaya dan sejarah tari saman. Apakah hal tersebut dapat dikatakan baru? Menurut saya "Iya".
Mengapa demikian? Karena menurut saya meskipun ilmu yang diajarkan sama saja , orang yang mengajarkan tetap berbeda. Kita akan menemukan banyak hal baru dari dua orang yang berbeda ini. Sudut pandang baru, pendapat baru, gaya bercerita baru, tambahan informasi baru, dan hikmah baru yang bisa kita petik dari orang itu. Namun untuk bisa mendapatkan itu semua, kita harus mengosongkan gelas ilmu kita terlebih dahulu.
Kita sebagai manusia yang haus akan ilmu dan informasi, sudah seharusnya untuk mengosongkan gelas ketika menerima informasi dan ilmu baru dari seseorang. Dengan mengosongkan gelas kita, kita akan lebih banyak menyerap ilmu, kita akan lebih mudah menerima hal-hal positif. Ibarat gelas yang kosong, gelas tersebut akan dengan mudahnya menerima air yang dituangkan. Bandingkan dengan gelas yang sudah terisi penuh oleh air, jika dituangkan air kembali maka air yang sudah ada di dalam gelas akan luber berjatuhan. Sama halnya dengan ilmu, jika kita merasa sudah paham, sudah mahir, dan sudah berilmu, maka kita akan sulit menerima ilmu dan pelajaran baru meskipun itu benar.
Ya, memang untuk melakukan semua ini tidaklah mudah. Perlu kerendahan hati untuk bisa mengosongkan gelas ilmu kita. Orang dengan pendidikan dan jabatan tinggi tentunya lebih bijaksana dan cerdas dalam menghadapi berbagai situasi. Namun adakalanya, karena karunia pendidikan serta jabatan yang tinggi ini mereka merasa tinggi hati. Enggan belajar sesuatu dari orang yang baru. Apalagi jika harus belajar dari orang yang pendidikan dan jabatannya jauh di bawah mereka. Padahal setiap orang, serendah apapun orang itu tetap memiliki pengalaman hidup dan kearifan yang mungkin belum kita miliki, dan kita bisa mengambil hikmahnya dari situ.
Tidak dapat dipungkiri beberapa orang pasti pernah berada di fase ini. Merasa cukup akan ilmu yang dimiliki, kemudian membuat kita enggan untuk mempelajarinya lagi. Bertemu dengan orang yang lebih rendah status sosialnya dari kita, kemudian acuh karena merasa diri ini lebih baik dari mereka. Manusiawi. Saya pun dulu begitu. Namun apakah kita akan selamanya seperti itu? Menutup mata dan bersikap tidak peduli akan hal positif di sekeliling kita. Ilmu baru dan pengalaman baru datang dari siapapun, kapanpun dan dimanapun. Bahkan pengamen, pengemis, atau pemulung yang dianggap rendah oleh sebagian orang pun bisa memiliki pengalaman dan ilmu baru yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Orang-orang tersebut bisa memberikan hikmah dan pelajaran berharga kepada siapa saja, termasuk saya.
Teringat kejadian tahun lalu. Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama kaka saya. Kemudian tepat di depan motor kami, ada truk sampah dengan beberapa petugas kebersihan di atas sampahnya. Saya melihat petugas-petugas itu sedang asik menyantap makan siang sambil tertawa renyah. Bayangkan, dengan bau sampah yang sangat menyengat, mereka masih bisa makan dengan diiringi tawa riang satu sama lain. Dari sini saya belajar arti syukur sesungguhnya. Saya juga belajar arti mencintai pekerjaan dari mereka. Mereka bisa ikhlas menjalankannya karena mereka mencintai dan mensyukuri pekerjaan mereka.
Lihat? Betapa pelajaran berharga yang bisa saya dapatkan dari mereka dan mungkin tidak bisa saya dapatkan dari orang lain. Benar adanya bahwa setiap orang, serendah apapun orang itu tetap memiliki pengalaman hidup dan kearifan yang mungkin belum kita miliki, dan kita bisa mengambil hikmahnya dari situ. Karena seperti apa yang dituliskan peribahasa arab Undzur ma qola wala Tandzur man qola yang artinya lihat apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang mau belajar dan mendengarkan ilmu, pelajaran, dan nasihat positif dari siapapun.

Growth Mindset VS Fixed Mindset. Which One Is Better?

Pernah dengar istilah growth mindset ? Makhluk seperti apa sih growth mindset itu? Growth mindset adalah sebuah pola pikir dasar yang ...