Rabu, 29 April 2020

KOSONGKAN GELASMU


“Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu.” -Bob Sadino

Dilihat dari judul dan kutipan keren diatas, pasti kamu tahu apa yang mau saya bahas disini. Yapss, its all about mengosongkan gelas. Apa sebenernya hakikat dari mengosongkan gelas itu sendiri? Saya yakin pasti banyak diantara kalian yang sudah mengetahuinya. Pada tulisan kali ini, saya tidak akan menggurui kalian atau apapun itu. Saya pure hanya ingin menyampaikan beberapa pendapat dan pandangan pribadi saya soal ini. So, no offence yaa!
Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti selalu menemukan hal baru. Entah itu pengalaman, ilmu, pelajaran, ataupun teman. Tentunya kita sebagai manusia akan terus mendapatkan itu semua sampai akhir hayat kita. Namun pertanyaan sebenarnya adalah bagaimana supaya semua hal baru dalam hidup kita bisa memiliki makna?
Bicara soal hal baru. Ketika kita mempelajari suatu hal dari seseorang, kemudian seseorang yang berbeda kembali mengajarkan hal yang sama, menurut pandangan pribadi saya hal itu tetap dikatakan baru. Baik, saya kasih contoh dan permisalannya. Misalnya, saya belajar tentang budaya dan sejarah tari saman dari si A, kemudian di lain waktu si B kembali mengajarkan saya hal yang sama yaitu budaya dan sejarah tari saman. Apakah hal tersebut dapat dikatakan baru? Menurut saya "Iya".
Mengapa demikian? Karena menurut saya meskipun ilmu yang diajarkan sama saja , orang yang mengajarkan tetap berbeda. Kita akan menemukan banyak hal baru dari dua orang yang berbeda ini. Sudut pandang baru, pendapat baru, gaya bercerita baru, tambahan informasi baru, dan hikmah baru yang bisa kita petik dari orang itu. Namun untuk bisa mendapatkan itu semua, kita harus mengosongkan gelas ilmu kita terlebih dahulu.
Kita sebagai manusia yang haus akan ilmu dan informasi, sudah seharusnya untuk mengosongkan gelas ketika menerima informasi dan ilmu baru dari seseorang. Dengan mengosongkan gelas kita, kita akan lebih banyak menyerap ilmu, kita akan lebih mudah menerima hal-hal positif. Ibarat gelas yang kosong, gelas tersebut akan dengan mudahnya menerima air yang dituangkan. Bandingkan dengan gelas yang sudah terisi penuh oleh air, jika dituangkan air kembali maka air yang sudah ada di dalam gelas akan luber berjatuhan. Sama halnya dengan ilmu, jika kita merasa sudah paham, sudah mahir, dan sudah berilmu, maka kita akan sulit menerima ilmu dan pelajaran baru meskipun itu benar.
Ya, memang untuk melakukan semua ini tidaklah mudah. Perlu kerendahan hati untuk bisa mengosongkan gelas ilmu kita. Orang dengan pendidikan dan jabatan tinggi tentunya lebih bijaksana dan cerdas dalam menghadapi berbagai situasi. Namun adakalanya, karena karunia pendidikan serta jabatan yang tinggi ini mereka merasa tinggi hati. Enggan belajar sesuatu dari orang yang baru. Apalagi jika harus belajar dari orang yang pendidikan dan jabatannya jauh di bawah mereka. Padahal setiap orang, serendah apapun orang itu tetap memiliki pengalaman hidup dan kearifan yang mungkin belum kita miliki, dan kita bisa mengambil hikmahnya dari situ.
Tidak dapat dipungkiri beberapa orang pasti pernah berada di fase ini. Merasa cukup akan ilmu yang dimiliki, kemudian membuat kita enggan untuk mempelajarinya lagi. Bertemu dengan orang yang lebih rendah status sosialnya dari kita, kemudian acuh karena merasa diri ini lebih baik dari mereka. Manusiawi. Saya pun dulu begitu. Namun apakah kita akan selamanya seperti itu? Menutup mata dan bersikap tidak peduli akan hal positif di sekeliling kita. Ilmu baru dan pengalaman baru datang dari siapapun, kapanpun dan dimanapun. Bahkan pengamen, pengemis, atau pemulung yang dianggap rendah oleh sebagian orang pun bisa memiliki pengalaman dan ilmu baru yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Orang-orang tersebut bisa memberikan hikmah dan pelajaran berharga kepada siapa saja, termasuk saya.
Teringat kejadian tahun lalu. Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bersama kaka saya. Kemudian tepat di depan motor kami, ada truk sampah dengan beberapa petugas kebersihan di atas sampahnya. Saya melihat petugas-petugas itu sedang asik menyantap makan siang sambil tertawa renyah. Bayangkan, dengan bau sampah yang sangat menyengat, mereka masih bisa makan dengan diiringi tawa riang satu sama lain. Dari sini saya belajar arti syukur sesungguhnya. Saya juga belajar arti mencintai pekerjaan dari mereka. Mereka bisa ikhlas menjalankannya karena mereka mencintai dan mensyukuri pekerjaan mereka.
Lihat? Betapa pelajaran berharga yang bisa saya dapatkan dari mereka dan mungkin tidak bisa saya dapatkan dari orang lain. Benar adanya bahwa setiap orang, serendah apapun orang itu tetap memiliki pengalaman hidup dan kearifan yang mungkin belum kita miliki, dan kita bisa mengambil hikmahnya dari situ. Karena seperti apa yang dituliskan peribahasa arab Undzur ma qola wala Tandzur man qola yang artinya lihat apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang mau belajar dan mendengarkan ilmu, pelajaran, dan nasihat positif dari siapapun.

Growth Mindset VS Fixed Mindset. Which One Is Better?

Pernah dengar istilah growth mindset ? Makhluk seperti apa sih growth mindset itu? Growth mindset adalah sebuah pola pikir dasar yang ...