“Setiap bertemu dengan orang baru,
saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu.”
-Bob Sadino
Dilihat
dari judul dan kutipan keren diatas, pasti kamu tahu apa yang mau saya bahas
disini. Yapss, its all about mengosongkan gelas. Apa sebenernya
hakikat dari mengosongkan gelas itu
sendiri? Saya yakin pasti banyak diantara kalian yang sudah mengetahuinya. Pada
tulisan kali ini, saya tidak akan menggurui kalian atau apapun itu. Saya pure hanya ingin menyampaikan beberapa
pendapat dan pandangan pribadi saya soal ini. So, no offence yaa!
Dalam
kehidupan sehari-hari, kita pasti selalu menemukan hal baru. Entah itu pengalaman,
ilmu, pelajaran, ataupun teman. Tentunya kita sebagai manusia akan terus
mendapatkan itu semua sampai akhir hayat kita. Namun pertanyaan sebenarnya
adalah bagaimana supaya semua hal baru dalam hidup kita bisa memiliki makna?
Bicara
soal hal baru. Ketika kita mempelajari suatu hal dari seseorang, kemudian
seseorang yang berbeda kembali mengajarkan hal yang sama, menurut pandangan
pribadi saya hal itu tetap dikatakan baru. Baik, saya kasih contoh dan
permisalannya. Misalnya, saya belajar tentang budaya dan sejarah tari saman
dari si A, kemudian di lain waktu si B kembali mengajarkan saya hal yang sama
yaitu budaya dan sejarah tari saman. Apakah hal tersebut dapat dikatakan baru? Menurut
saya "Iya".
Mengapa
demikian? Karena menurut saya meskipun ilmu yang diajarkan sama saja , orang
yang mengajarkan tetap berbeda. Kita akan menemukan banyak hal baru dari dua
orang yang berbeda ini. Sudut pandang baru, pendapat baru, gaya bercerita baru,
tambahan informasi baru, dan hikmah baru yang bisa kita petik dari orang itu.
Namun untuk bisa mendapatkan itu semua, kita harus mengosongkan gelas ilmu kita
terlebih dahulu.
Kita
sebagai manusia yang haus akan ilmu dan informasi, sudah seharusnya untuk
mengosongkan gelas ketika menerima informasi dan ilmu baru dari seseorang.
Dengan mengosongkan gelas kita, kita akan lebih banyak menyerap ilmu, kita akan
lebih mudah menerima hal-hal positif. Ibarat gelas yang kosong, gelas tersebut
akan dengan mudahnya menerima air yang dituangkan. Bandingkan dengan gelas yang
sudah terisi penuh oleh air, jika dituangkan air kembali maka air yang sudah
ada di dalam gelas akan luber berjatuhan. Sama halnya dengan ilmu, jika kita
merasa sudah paham, sudah mahir, dan sudah berilmu, maka kita akan sulit
menerima ilmu dan pelajaran baru meskipun itu benar.
Ya,
memang untuk melakukan semua ini tidaklah mudah. Perlu kerendahan hati untuk
bisa mengosongkan gelas ilmu kita. Orang dengan pendidikan dan jabatan tinggi
tentunya lebih bijaksana dan cerdas dalam menghadapi berbagai situasi. Namun
adakalanya, karena karunia pendidikan serta jabatan yang tinggi ini mereka
merasa tinggi hati. Enggan belajar sesuatu dari orang yang baru. Apalagi jika
harus belajar dari orang yang pendidikan dan jabatannya jauh di bawah mereka.
Padahal setiap orang, serendah apapun orang itu tetap memiliki pengalaman hidup
dan kearifan yang mungkin belum kita miliki, dan kita bisa mengambil hikmahnya
dari situ.
Tidak
dapat dipungkiri beberapa orang pasti pernah berada di fase ini. Merasa cukup
akan ilmu yang dimiliki, kemudian membuat kita enggan untuk mempelajarinya
lagi. Bertemu dengan orang yang lebih rendah status sosialnya dari kita,
kemudian acuh karena merasa diri ini lebih baik dari mereka. Manusiawi. Saya
pun dulu begitu. Namun apakah kita akan selamanya seperti itu? Menutup mata dan
bersikap tidak peduli akan hal positif di sekeliling kita. Ilmu baru dan
pengalaman baru datang dari siapapun, kapanpun dan dimanapun. Bahkan pengamen,
pengemis, atau pemulung yang dianggap rendah oleh sebagian orang pun bisa
memiliki pengalaman dan ilmu baru yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Orang-orang
tersebut bisa memberikan hikmah dan pelajaran berharga kepada siapa saja,
termasuk saya.
Teringat
kejadian tahun lalu. Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah
bersama kaka saya. Kemudian tepat di depan motor kami, ada truk sampah dengan
beberapa petugas kebersihan di atas sampahnya. Saya melihat petugas-petugas itu
sedang asik menyantap makan siang sambil tertawa renyah. Bayangkan, dengan bau
sampah yang sangat menyengat, mereka masih bisa makan dengan diiringi tawa
riang satu sama lain. Dari sini saya belajar arti syukur sesungguhnya. Saya
juga belajar arti mencintai pekerjaan dari mereka. Mereka bisa ikhlas
menjalankannya karena mereka mencintai dan mensyukuri pekerjaan mereka.
Lihat?
Betapa pelajaran berharga yang bisa saya dapatkan dari mereka dan mungkin tidak
bisa saya dapatkan dari orang lain. Benar adanya bahwa setiap orang, serendah
apapun orang itu tetap memiliki pengalaman hidup dan kearifan yang mungkin
belum kita miliki, dan kita bisa mengambil hikmahnya dari situ. Karena seperti
apa yang dituliskan peribahasa arab Undzur ma qola wala Tandzur man qola yang artinya lihat apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. Semoga kita
senantiasa menjadi manusia yang mau belajar dan mendengarkan ilmu, pelajaran,
dan nasihat positif dari siapapun.
Mantap mba maya teruskan
BalasHapusSiaap, makasiih paressakun
Hapusjiwa madrasahnya keluar pake peribahasa arab wkwk, nice kak
BalasHapusHehehe, at least ada satu dua yang diinget lah dari madrasah :)
HapusSemangat terus yaa!! Suka deh sama pilihan kata katanya. Dapat di mengerti :)
BalasHapusAlhamdulillah kalo gitu, makasih yaa
Hapuskerenbgt mayaa!! semangat berkarya maay
BalasHapusMakasiih nailaa. Doakan yaa
HapusKeren Maya, semangat ya
BalasHapusMakasih ka zakii
HapusMantul bgt 👍
BalasHapusHehehee makasii ka yolaa
HapusAlhamdulillah anggep aja lagi kuliah online, semoga bermanfaat tulisannya(ilmunya) Aamiin ya Allah..
BalasHapusthat’s great, I’m so pleased!
Aamiin, semoga yaa. Makasih yaa
Hapusditunggu tulisannya lagi ya, next mungkin bisa sharing cara nulis artikel gini yang bisa dipublish + dimengerti orang lain atau ada hal2 yang perlu diperhatikan dalam nulis gitu hhe
HapusWah keren, mksh ya infonya
BalasHapusAlhamdulillah, samasama yaa
Hapus